Isnin, 9 Ogos 2010

10 Hal Yang Mendatangkan Cinta Allah

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan cinta Allah. Namunbagaimanakah cara untuk mendapatkan cinta tersebut? Ibnul Qayyim Rahimahullahmenyebutkan beberapa hal untuk menerangkan maksud perkara tersebut dalam kitab beliau Madarijus Salikin , tahap-tahap menuju wahana cinta kepada Allah adalah seperti berikut:


1) Membaca al-Qur’an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar.

Itu tidak lain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur’an agar difahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak boleh ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan

“Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas makhluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan seperti itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia”.

Perkara ini boleh dilakukan umpama seseorang memahami sebuah buku iaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. (Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an)


2)Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunat, setelah mengerjakan ibadah-ibadah wajib.

Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardhu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunat, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah solat-solat sunat, puasa-puasa sunat, sedekah sunat dan amalan-amalan sunat dalam haji dan umrah.

3)T
erus-menerus mengingat Allah (zikir) dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya.

Kadar kecintaan seseorang terhadap Allah bergantung kepada kadar zikirnya kepada-Nya. Zikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :”Aku bersama hambaKu selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berzikir) kepadaKu”.

Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan zikir kepada-Nya.


4)Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri walaupun dikuasai hawa nafsunya.

Melebihkan cinta kepada Allah daripada cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Ertinya ia rela mencintai Allah meskipun berisiko tidak dicintai oleh makhluk dan harus menempuh berbagai kesulitan. Inilah darjat para Nabi, diatas itu darjat para Rasul dan diatasnya lagi darjat para rasul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah darjat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab baginda mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.

5)Merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah.

Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (kerana mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

6)Memerhatikan kebaikan, nikmat dan kurnia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir mahupun batin akan mengantarkan kita kepada cinta hakiki kepada-Nya.

Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah SWT. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

7) Menghadirkan hati secara keseluruhan (total) semasa melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya inilah yang disebut dengan khusyu’.

Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan solat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.

8)Menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir.

Di saat itulah Allah SWT turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an) dan solat malam agar mendapatkan cinta Allah. Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

9)Bergaul bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para siddiqin.

Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahawa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

10)Menjauhi segala sebab yang dapat menghalang komunikasi antara dirinya dan Allah SWT.

Semoga kita sentiasa mendapatkan cinta Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap degup jantung dan setiap nafasnya.

Ibnul Qayyim mengatakan bahawa "kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati."

Ahad, 18 Julai 2010

Was Islam Spread By The Sword?

"How can Islam be called the religion of peace, when it was spread by the sword?" It is a common complaint among some non-Muslims that Islam would not have millions of the adherents all over the world, if it had not been spread by the use of force. The following points will make it clear, that far from being spread by the sword, it was Islam's inherent force of truth, reasons and logic that was responsible for its rapid spread:


1. Islam means PEACE.

Islam comes from the root word ‘salaam’, which means peace. It also means submitting one’s will to God Almighty. Thus Islam is a religion of peace, which is acquired by submitting one’s will to the will of the Supreme Creator, Allah swt.


2. Sometimes force has to be used to maintain peace.

Each and every human being in this world is not in favor of maintaining peace and harmony. There are many who would disrupt it for their own vested interests. Sometimes force has to be used to maintain peace. It is precisely for this reason that we have the police force, which uses force against criminals and anti-social elements to maintain peace in society. Islam promotes peace. At the same time, Islam exhorts it's followers to struggle and fight against oppression. The fight against oppression may, at times, requires the use of force. In Islam force may only be used to promote peace and justice.


3. Opinion of historian De Lacy O' Leary.

The best reply to the misconception that Islam was spread by the sword is given by the noted historian De Lacy O’Leary in the book “Islam at the cross roads” (Page 8):

“History makes it clear, however, that the legend of fanatical Muslims sweeping through the world and forcing Islam at the point of the sword upon conquered races is one of the most fantastically absurd myths that historians have ever repeated."


4. Muslim ruled Spain for 800 years.

Muslims ruled Spain for about 800 years. The Muslims in Spain never used the sword to force the people to convert. Later the Christian Crusaders came to Spain and wiped out the Muslims. There was not a single Muslim in Spain who could openly give the ‘adhaan’, that is the Muslims’ call for prayers.


5. Fourteen million Arabs are Coptic Christians.

Muslims were the lords of Arabia for 1400 years. For a few years the British ruled, and for a few years the French ruled, but overall, the Muslims ruled Arabia for 1400 years. Yet today, there are 14 million Arabs who are Coptic Christians i.e. Christians since generations. If the Muslims had used the sword, there could not have been a single Arab who would have remained a Christian.

6. More than 80% non-Muslim in India.

The Muslims ruled India for about a thousand years. These Muslim rulers did not use any force in order to convert people to Islam. Today more than 80% of the population of India consists of non-Muslims. All these non-Muslim Indians are testimony today that Islam was not spread by the sword, nor was any force used for conversion to Islam.

7. Indonesia and Malaysia.

Indonesia is a country that has the maximum number of Muslims in the world. The majority of people in Malaysia are Muslims. May one ask, “Which Muslim army went to Indonesia and Malaysia?"


8. East Coast of Africa.

Similarly, Islam has spread rapidly on the East Coast of Africa. One may again ask, if Islam was spread by the sword, “Which Muslim army went to the East Coast of Africa?"


9. Thomas Carlyle.

The famous historian, Thomas Carlyle, in his book “Heroes and Hero Worship”, refers to this misconception about the spread of Islam: “The sword indeed, but where will you get your sword? Every new opinion, at its starting is precisely in a minority of one. In one man’s head alone. There it dwells as yet. One man alone of the whole world believes it, there is one man against all men. That he takes a sword and tries to propagate with that, will do little for him. You must get your sword! On the whole, a thing will propagate itself as it can."


10. No compulsion in religion.

With which sword was Islam spread? Even if Muslims had it they could not use it to spread Islam because the Qur’an says in the following verse:

“Let there be no compulsion in religion: Truth stands out clear from error” [Al-Qur’an 2:256]


11. Sword of the Intellect.

It is the sword of intellect. The sword that conquers the hearts and minds of people. The Qur’an says in Surah Nahl, chapter 16 verse 125:

“Invite (all) to the way of thy Lord with wisdom and beautiful preaching; and argue with them in ways that are best and most gracious.” [Al-Qur’an 16:125]


12. Increase in the world religions from 1934 to 1984.

An article in Reader’s Digest ‘Almanac’, year book 1986, gave the statistics of the increase of percentage of the major religions of the world in half a century from 1934 to 1984. This article also appeared in ‘The Plain Truth’ magazine. At the top was Islam, which increased by 235 percent, while Christianity had increased only by a mere 47 percent. May one ask, which war took place in this century which converted millions of people to Islam?


13. Islam is the fastest growing religion.

Islam is the fastest growing religion in America and Europe. Today the fastest growing religion in America is Islam. The fastest growing religion in Europe is Islam. Which sword is forcing people in the West to accept Islam in such large numbers?


14. Dr. Joseph Adam Pearson.

Dr. Joseph Adam Pearson rightly says, “People who worry that nuclear weaponry will one day fall in the hands of the Arabs, fail to realize that the Islamic Bomb has been dropped already, it fell on the day Muhammad (Our Prophet, peace be upon him) was born”.

*The author, Dr Zakir Abd Karim Naik is a Muslim scholar, public speaker, and writer on the subject of Islam and other comparative religion. Naik is a medical doctor by profession, having attained a Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) from Maharashtra. Naik is the founder and president of the Islamic Research Foundation(IRF), a non-profit organization which also owns and broadcasts the free-to-air global Peace TV channel from Mumbai.

Jatuh Cinta atau Jatuh Nafsu?

Kata orang barat "What's the fuss all about?"

Hari ini saya ingin mengajak saudara meneliti permasalahan ummat yang berlaku kini khususnya bagi golongan muda belia yang masih lagi baru dalam meniti hakikat kehidupan.

Permasalahan mengikut usia.

Apa yang dapat saya lihat, kebiasaannya masalah bagi golongan muda adalah mengenai hubungan atau percintaan. Masalah kepada mereka yang sudah berumah tangga lebih kepada permasalahan daipada aspek tanggungjawab kepada keluarga, kecurangan dan juga politik tempat kerja. Mereka yang berada dalam kategori kepimpinan pula permasalahannya lebih kepada korupsi dan penyelewengan, tidak kira sama ada daripada golongan ‘ikan bilis' hinggalah ke ‘jerung besar' dan daripada parti Islamik, komunis, sosialis mahupun sekularis.


Melihat kepada rancangan televisyen, dapatkah anda menilai betapa banyaknya filem, teledrama, telefilem bahkan apa rancangan sekalipun yang membincangkan mengenai cinta sesama manusia? Dalam ruangan akbhar pula, akhbar manakah yang tiada ruangan kaunseling cinta? Berapa banyaknya majalah yang menerbitkan tentang hubungan sesama manusia dalam erti kata cinta yang tidak sah? Cuba anda lihat pula pada diri anda sendiri atau setidak-tidaknya pada mereka yang sebaya dengan anda. Berapa ramaikah di antara mereka yang mempunyai kekasih pujaan hati? Jawapannya bukan sahaja ada, bahkan terlalu banyak dan barangkali sudah menjadi darah daging!


Bermula mungkin daripada persahabatan, lewat sistem pesanan ringkas (SMS) atau facebook. Setelah beberapa lama, pertemuan diatur. Kemudian, keluar berdua-duaan. Malu-malu. Segan-segan. Selepas itu, bermulalah adegan ayang-ayang, anje-anje. Mula berpegangan tangan. Perhubungan ini diisi dengan madah cinta yang sangat romantis.

Cinta suci...


Cinta agung...

Semoga perhubungan diberkati dan kekal...

Setelah itu, mungkin ada yang ke jinjang pelamin dan mendirikan rumah tangga dan mungkin pula daripada berpegangan tangan mula melangkah lebih maju dalam keadaan yang tidak baik.

Malaysia Boleh katakan...

Di akhir cerita lahirlah anak luar nikah. Paling tidak, kehormatan diri sudah tergadai atau mungkin hampir tergadai. Barangkali situasi ini tidak berlaku kepada semua pasangan tetapi hal ini berlaku hampir kepada semua.

Kita lihat pula pada sikap mereka yang berada dalam situasi ini. Sanggup lakukan apa sahaja, betul? Sanggup membelanjakan wang dan mengorbankan masa. Sanggup melayan dan menahan banyak kerenah. Sanggup menyerahkan tubuh badan untuk dijadikan sebagai persembahan ‘cinta teragung'. Lebih dahsyat lagi ada yang sanggup menukar agama kerana sayangkan kekasih hati.

Lihat pula kepada perbualan harian mereka.


"Kenapa dia tak call aku hari ni?"

"Dia suka aku ke tak? Sayang aku ke tak?"

Kalau nak dengar dengan lebih lanjut, saya mencadangkan supaya dengan tak malunya sila duduk di sebelah mereka yang sedang berpacaran dan dengar perbualan mereka. Jika ingin jalan selamat supaya tidak dimaki, tonton sahaja TV3.

Sekarang harap anda mula melihat dengan jelas. Sejujurnya hal ini adalah masalah yang berlaku dalam golongan muda-mudi kita. Kita disibukkan oleh permasalahan sebegini remeh.


Cinta itu juga satu ciptaan. Bukan Pencipta. Cinta bukan Tuhan!


Bukankah cinta itu telah Allah ciptakan kepada manusia sebagaimana Dia menciptakan pancaindera manusia dan akal manusia. Jadi boleh sahaja kita katakan bahawa cinta itu cuma satu jalan daripada jalan-jalan yang telah Allah kurniakan kepada kita untuk mencari redaNya. Sayang... Kita menjadikan jalan itu sebagai matlamat sedangkan matlamat sebenarnya sudah hilang ke mana. Jadinya, secara tidak sedar kita telah terlampau mengagungkan kalimah cinta dan cinta itu sendiri.


JATUH CINTA atau JATUH NAFSU?


Bukankah sudah jelas dalam al-Quran dinyatakan bahawa syaitan akan menampakkan sesuatu yang buruk itu sebagai sesuatu yang baik pada pandangan kita?

Berpegangan tangan. Bercumbu mesra. Peluk-memeluk. Tangan menjalar merata diiringi kalimah-kalimah yang manis puji-memuji. Kadang-kadang siap berdoa supaya kasih akan terus berkekalan. Poorah! Bila sudah perut membesar, barulah tersedar dan tersentak. Bila keluarga si perempuan bawa "abang-abang besar" suruh bertanggungjawab barulah rasa kecut dan takut.

Haq dan batil tidak boleh bercampur. Islam itu lahir daripada keruntuhan jahiliah. Kita ini terbalik pula. Islam itu jadinya pada kita bercampur dengan jahiliah. Maka patutkah Allah reda dengan tindakan kita? Sepatutnya kita melihat melalui kaca mata al-Quran yang sudah terang haq dan batilnya. Bagaimana indah sekalipun jika yang batil itu dicantikkan oleh syaitan, kita tetap akan sedar betapa buruknya apa yang kita lakukan, betapa jijiknya dan kotornya dosa yang kita lakukan itu.


Berhenti dan Periksa diri Anda.


Kita bukanlah manusia yang sempurna daripada segala salah dan silap. Kita seharusnya sedar jika telah berbuat kesalahan dan melakukan perubahan. Itulah yang membezakan Adam dan Iblis. Kedua-duanya membuat kesalahan tetapi Adam bertaubat sedangkan Iblis telah bersumpah dengan angkuh dan sombongnya untuk menyesatkan anak cucu Adam sampai hari perhitungan. Berhenti dan periksa diri kita, muhasabah kembali tiap perlakuan kita. Semoga apa yang tertulis ini mampu memberi sedikit kesedaran kepada saya dan anda. Wallahua'alam.



Khamis, 1 Julai 2010

Wahai Para Pendakwah...!





KAMU... Mereka yang dikurniakan Allah nikmat ilmu al-quran dan hadith. Yang mengetahui apa yang tidak kami ketahui tentang agama kami sendiri. Dengan itu, telah menjadi tanggungjawab kamu untuk menyebarkannya kepada kami.

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang salah dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semua mengetahuinya."


- Al-Baqarah, 42 -

Wahai para dai'e,

Dengarlah rintihan dan permintaan daripada kami ini, agar kami boleh memahami apa yang telah menjadi pegangan kami selama ini. Kami tidak ingin jahil selamanya, kami punya semangat tapi kami memerlukan dorongan, sedikit anjakan daripada kamu, dan peringatan agar kami tidak kembali lalai.


"Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya."

-Ali-Imran, 104 -

Wahai para dai'e,

Janganlah kamu sesekali merasakan diri kamu itu lebih hebat dan mulia daripada kami, kerana ianya hanya akan menyebabkan kami menjauhi kamu. Biarlah kami sendiri yang merasakan diri lemah dan jahil berbanding dengan kamu agar kami sentiasa mendekatimu untuk memperbaiki diri kami agar memperoleh keredhaan Allah.

"Zuhud-lah terhadap apa yang ada di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhud-lah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka manusia pun akan mencintaimu."

- H.R Ibnu Majah dan lain-lain dengan sanad hassan -

Wahai para dai'e,

Berilah kami nasihat dan peringatan yang sesuai dengan tahap kemampuan iman kami, bersikap lembutlah terhadap kami, bantulah kami membentuk aqidah kami, janganlah engkau menyeru kami untuk menunaikan ibadah-ibadah sunnah sedangkan ibadah wajib kami tinggalkan.

Jawablah soalan-soalan kami dengan bijak dan sertakanlah sedikit jawapan tambahan agar boleh kami mengambil pengajaran yang bermanfaat, seperti mana Rasulullah saw apabila baginda ditanya sama ada air laut itu boleh dibuat wudhuk atau tidak, baginda menjawab

"Laut itu airnya suci lagi menyucikan dan bangkai haiwannya halal"

- H.R Malik, al-Syafi'e -


Wahai para dai'e,

Telah kamu ketahui tanggungjawabmu, maka tunjukkanlah kami teladan yang baik untuk kami ikuti. Janganlah kamu hanya menasihati kami dengan mulutmu, tetapi tidak dengan akhlakmu. Kita sendiri tahu bahawa Allah dan Rasul-Nya tidak suka perbuatan seumpama itu.


"Patutkah kamu menyuruh manusia supaya berbuat kebaikan sedang kamu lupa akan diri kamu sendiri; padahal kamu semua membaca Kitab Allah, tidakkah kamu berakal?"

- Al-Baqarah, 44 -


Dan, telah kamu wahai para dai'e, menjalankan tanggungjawabmu. Maka tibalah giliran kami untuk menyampaikan nikmat Allah ini kepada saudara kita yang masih tidak mengetahui. Dan semoga kita dirahmatiNya...


"Adapun nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau sebut-sebutkan (dan zahirkan) sebagai bersyukur kepadaNya".

- Ad-Dhuha,11 -


Ahad, 6 Jun 2010

Betul Ke Kita Beriman?

Pelbagai masalah yang menimpa umat Islam seluruh hari ini. Tidak kiralah dari segi apa pun sama ada sosial, politik, ekonomi dan segala macam sudut. Kita sebagai umat Islam lebih cenderung menyalahkan pihak lain di atas kelemahan kita sendiri. Bukan semua yang bersifat begini tetapi ada dalam kalangan umat Islam itu sendiri.

Saya cuba berkongsi pendapat saya bersama para pembaca artikel ini. Jika ada salah dan silap boleh ditegur dengan cara yang berhemah seperti mana yang diamalkan oleh junjungan besar kita Rasulullah S.A.W. Ini adalah sekadar pendapat peribadi saya, ianya adalah hasil daripada pengalaman hidup saya yang tidak seberapa ini.

Kita sambung kembali isu yang dibincangkan sebentar tadi. Sebagai contoh dan ini tiada kaitan dengan sesiapa, ramai umat Islam dewasa ini cukup prihatin dalam isu Palestin. Banyak juga pihak sama ada yang beragama Islam atau pun tidak yang telah membantu dari segi bantuan kewangan, pakaian, tenaga dan pelbagai lagi perkara yang dirasakan perlu untuk membantu rakyat Palestin yang menderita.

Tidak kurang juga yang sering berdoa supaya rakyat Palestin diselamatkan dan pihak yang menindas ke atasnya dihancurkan daripada muka bumi ini dan kalau tidak silap saya, doa-doa ini juga sering berkumandang di tempat yang makbul doa seperti di Tanah Suci Makkah dan juga Madinah.

Persoalannya,

Adakah Yang Maha Mendengar tidak mendengar doa kita?

Adakah Yang Maha Mengetahui tidak mengetahui hambaNYA sedang menderita?

Adakah Yang Maha Mengasihani tidak mengasihani hambaNYa?

Adakah Yang Maha Melihat tidak melihat kesengsaraan hambaNYA?

Adakah Yang Maha Berkuasa tidak berkuasa ke atas kekuasaanNYA?

Adakah Yang Maha Pencipta tidak dapat mengawal ciptaanNYA?


Tidak sesekali tidak kerana Allah itu Maha Sempurna tiada tolok bandingnya.

Wahai orang yang Islam, kita cuba lihat kembali dalam diri kita. Sememangnya nama kita Muhammad, nama kita Ahmad, nama kita Abu Bakar, nama kita Umar, nama kita Uthman, nama kita ‘Ali, nama kita Khadijah, nama kita ‘Aisyah, nama kita Fatimah tetapi adakah kita benar-benar beriman?

Apa itu iman?

Iman itu yakin.

Bagaimanakah perasaan yakin itu?

Seseorang yang yakin kawannya seorang yang amanah akan menceritakan rahsianya tanpa sedikit syak pun bahawa kawannya itu akan menceritakan rahsia tersebut kepada pihak lain.

Inilah yakin. Tiada syak. Tiada keraguan.

Di mulut yakin yang Allah itu Maha Melihat, tetapi masih melakukan dosa bersunyi diri.

Di mulut yakin bahawa Allah itu Maha Mendengar tetapi mulut masih seronok memperkatakan kelemahan dan aib orang lain.

Di mulut yakin bahawa Allah itu Maha Berkuasa tetapi masih merasakan diri sendiri yang berkuasa dengan meninggalkan solat. Bagi yang tidak meninggalkan solat, cuba ingat balik solat fardhu yang kita lakukan tadi, sempurnakah? Adakah menepati ciri-ciri solat yang khusyuk?

Puasa, bagi yang berpuasa, sempurnakah puasa kita secara batinnya? Pada zahirnya kita berpuasa,tapi batinnya?

Zakat dan haji, ini yang fardhu kalau ini pun tak buat, tak payah cerita la yang sunat.

Banyak lagi kalau ingin disenaraikan akan kelemahan sebagai KITA UMAT ISLAM. Lihat sahaja Rukun Islam kita yang lima.

Sejauh mana tahap keyakinan terhadap Allah S.W.T?

Sejauh manakah keimanan kita terhadap Allah S.W.T?

Hal ini berlaku kepada umat Islam seluruh dunia. Umat akhir zaman. Nak buat macam mana. Itukah jawapan kita?

Kita ibarat buih-buih di lautan. Banyak tetapi tidak bertahan lama. Orang yang lemah imannya akan terus mengikut arus. Orang yang sederhana imannya dapat menahan arus. Orang yang kuat imannya dapat melawan arus. Kita bagaimana?

Mungkin secara ikrar dan perbuatan menunjukkan kita beriman. Perkataan yang dituturkan oleh kita menampakkan seolah-olah kita orang yang beriman. Perbuatan kita melakukan solat, puasa, zakat,tulisan-tulisan kita di buku-buku atau blog-blog menunjukkan kita orang yang beriman walaupun kita tidak menyatakannya. Tapi di manakah hati kita?

Bukankah iman itu dicetuskan oleh hati, diikrarkan dengan lidah dan dibuktikan dengan perbuatan? Ketiga-tiganya mesti disekalikan. Hati, lidah dan perbuatan.

Hati kita belum yakin dengan ucapan keimanan yang kita ucapkan. Hati kita belum yakin dengan perbuatan keimanan yang kita lakukan.

BETUL KE KITA BERIMAN?

Penulis bukanlah seorang sangat kuat agamanya. Cuma ingin kongsikan pendapat yang kerdil ini. Harap dapat doakan untuk kesejahteraan iman saya dan umat Islam seluruh dunia.


Selasa, 18 Mei 2010

MAD'U CARI DA'IE ATAU SEBALIKNYA




Saya terpanggil untuk mencoret sesuatu yang saya rasa ada rasionalnya jika dikongsikan dengan sahabat bagi sama-sama kita lihat konteks situasi sekarang ini.

Setelah secara zahirnya kita ditiupkan roh oleh Allah utk hidup dimuka bumi ini. Kita sebagai manusia mempunyai suatu sifat yang kuat dalam diri kita iaitu sifat ingin tahu. Sifat ingin tahu inilah juga boleh dikatakan sebagai ilmu pengetahuan. Pada umur awalnya kita disuap dengan pelbagai ilmu pengetahuan melalui pengalaman dan juga suapan dari masyarakat disekeliling kita.Sebabnya, banyak sekali sisi-sisi kehidupan yang menjadi pertanyaan dalam diri kita.

Namun disini bukanlah ingin membicarakan mengenai ilmu, tetapi apa yang saya ingin ketengahkan ialah konteks isu semasa yang saya perhatikan dari kaca mata sendiri. Untuk lebih jelas, saya sebenarnya ingin membicarakan mengenai suatu situasi dimana guru ( duat ) mencari pelajar ( mad'u ) atau sepatutnya pelajar ( mad'u ) mencari guru ( duat ). Guru ( Duat ) Mencari Pelajar ( Mad'u ) Dalam konteks yang bagaimana duat perlu mencari mad'u nya?

Persoalan ini ingin saya lontarkan kepada kepemimpinan masyarakat mahupun masyarakat yang saya kategorikan sebagai faham. Bagi saya sebagai masyarakat yang sedar, faham dan mempunyai ilmu atau juga seorang da'ie, mereka perlu sedar bahawa dibahu mereka sebenarnya tertanggung satu beban. beban yang diamanahkan dan diberi kepercayaan kepada mereka untuk melaksanakan tugas untuk menyeru manusia kepada Allah (ad-da’wah ila Allah) adalah kewajipan setiap muslim dan muslimat di setiap masa.

Terutamanya di zaman kita ini, ia lebih wajib kerana umat Islam pada hari ini terdedah kepada serangan jahat musuh-musuh Allah yang bertujuan mencabut teras dakwah Islam dari jiwa umat Islam. Menyeru manusia kepada Allah adalah satu kemuliaan yang besar kepada pendukung dakwah. Firman Allah yang bermaksud:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang soleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” (Fushilat: 33)

Menyeru manusia kepada Allah menghasilkan pahala dan ganjaran yang besar dan tidak ternilai sebagaimana pengakuan Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
“Jika Allah memberi hidayah kepada seorang lelaki lantaran anda, itu lebih baik bagimu daripada setiap apa yang disinari matahari.” (Riwayat at-Tabrani)

Menyeru manusia kepada Allah s.w.t dan kepada jalan yang benar, adalah sebaik-baik urusan dan amat perlu diketengahkan, terutama di zaman ini yang berkecamuk dengan pelbagai kefahaman dan ideology, trend semasa yang memperbodoh, menyesat dan menyelewengkan.

Menyeru manusia kepada Allah adalah salah satu peringkat (marhalah) yang penting dalam amal Islami yang dilakukan secara bersungguh-sungguh. Ia merupakan marhalah ta’arif (memperkenalkan), yang mendahului marhalah takwin (pembentukan).


Melalui pemerhatian saya terhadap masyarakat kita, kita akan mendapati bahawa kelemahan iman atau kelumpuhan iman di jiwa, adalah kerana tidak memahami hakikat Islam dengan sebenarnya dan serangan pemikiran adalah faktor utama yang menyebabkan masyarakat berada dalam suasana yang ada pada hari ini. Ia juga merupakan faktor utama yang membolehkan musuh-musuh Allah menjadikan sebahagian kaum muslim sebagai kuda tunggangan mereka untuk memerangi Islam; secara mereka sedari ataupun tidak.

Janganlah diharapkan kesedaran, tindakan, amal atau hasil yang baik untuk Islam daripada mereka ini, melainkan setelah iman dibangkitkan dari dalam jiwa mereka terlebih dahulu. Dengan itu iman akan mendorong mereka kepada mengenal Allah dan memahami Islam, beramal dan berjuang untuk Islam serta mempertingkatkan diri kepada martabat para ‘amilin yang soleh.

Mungkin apa yang saya perkatakan diatas merupakan suatu konteks yang besar iaitu masyarakat, baik, kita perkecilkan kepada suasana kampus. Sebagai da'ie, perkara yang sama juga kita perlu lakukan bagi menarik lebih ramai mad'u untuk diberi kefahaman. Saya bercakap berdasarkan pemerhatian bahawa perlu ada tindakan dari dai'e tuk mencari mad'u kerana kebanyakkan mad'u yang baru ini sebenarnya sedang mencari identiti mereka yang sebenar.

Masa yang paling ideal untuk para da'ie bertindak ialah ketika semester pertama lagi. Ini merupakan masa yang paling sesuai bagi memandu mad'u yang baru memahami perjuangan seorang mahasiswa dikampus, bukan hanya sebagai pelajar, menduduki peperiksaan atau ujian, akan tetapi juga sebagai mahasiswa yang bersama dalam perjuangan Islam.

Pelajar ( Mad'u ) Mencari Guru ( Da'ie ). Namun begitu, mad'u sebenarnya tidak terlepas begitu sahaja. Sebelum itu, setuju atau tidak jika sayaa katakan bahawa da'ie juga mad'u dan mad'u juga da'ie? Saya katakan demikian berdasarkan hadis dari nabi dimana :"Sampaikanlah dariku walau satu ayat"

Maknanya disini, mad'u yang menerima suatu ilmu agama juga perlu menyampaikan apa yang dia pelajari. Maka disini mad'u tadi juga orang yang menyeru ataupun da'ie. Jadi setelah apa yang si mad'u itu peroleh, seharusnya dia perlu mencari kebenarannya. Melalui siapa? Tentulah melalui seoarang da'ie. Mad'u yang cintakan ilmu dan faham apa yang disampaikan dai'e ditambah pula dengan rahmat Allah, insyaAllah akan terus mencari, memperbaiki dan mengubah hidupnya supaya diredhai Allah.

Kesimpulan Jadi disini jelas bahawa kedua-dua situasi ini perlu ada dalam suasana atau waqi' sebagai seorang dai'e mahupun mad'u, mad'u perlu mencari seorang dai'e dan dai'e juga perlu mencari mad'u. Ini kerana, kedua-duanya saling memerlukan bagi menghasilkan sebuah masyarakat yang faham, beramal dan berjuang untuk Islam keseluruhannya. Wallahu a'lam.

Sabtu, 1 Mei 2010

Mata oh Mata, Kenapa Engkau Liar?

Babak 1

Sop: Kau tahu tak, Zetty tu dulu free hair.. Tiba-tiba je datang kesedaran nak pakai tudung.
Meon: Ye ke??!! macam tak percaya je..
Sop: Ha ah.. ok gak la.. dalam majalah sekolah ada lagi gambar dia.. kau nak tengok?

Babak 2

Pada suatu hari Sop dan Meon sedang berjalan-jalan di kotaraya London. Tiba-tiba mereka terlihat kelibat seorang wanita bertudung labuh ala-ala KCB.

Sop: eh, ada gadis mcam dalam KCB la...
Meon: Mana? Mana? Mana?
Sop: tuuu...tengah jalan ramai2 depan Madame Tusod..
Meon: ooooooo..... macam kenal, yang pakai tudung kaler merah jambu tu ke?

Babak 3

Sop dan Meon menyambung kembara cuti Easter mereka di bandaraya Dublin. Cuaca semakin panas.

Sop: astaghfirullahal azim, singkatnya skirt minah saleh tu...tak solehah langsung...! !
Meon: eh ye ke? yang mana satu? Yang skirt oren tu ke?
Sop: tak, yang kaler biru , blouse biru muda tu..
Meon: Ha ah la..betul lah cakap kau...


Ada apa dengan mata?

Untuk jadi hebat, kita perlu menutup dan menundukkan pandangan. Ini bukanlah bermaksud semuanya kena pejamkan mata 24 jam (penat juga tu), atau membina dinding dan tembok batu sepanjang masa atau semasa kuliah-kuliah agama sahaja, tetapi menjaga dan memelihara kedua mata kita daripada MENJADI LIAR.

Apabila datangnya peluang terbentang di hadapan kita, samada semasa sedang berseorangan, atau sedang berdua bersama rakan karib, atau bersama masyarakat umum, kita mestilah bertindak SEGERA dan PINTAR untuk tidak mengamati kecantikan wanita yang terbentang dan segeralah mengalihkan pandangan daripadanya sambil bersyukur dan beristighfar.

''Alhamdulillah, Allah jaga mata dan hati aku. Ya Allah, ampunlah dosa aku, moga Allah beri yang lebih baik''

Allah berfirman;

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." - [67:12]

Kalau dahulu dia tidak bertudung, atau kurang menutup aurat, perlukah kita menatap gamabr gambar 'lama' itu lagi? Fear Allah brothers... malulah sebab mereka itu sudah diberikan hidayahnya.. Kita bila lagi?

Kalau ternampak kelibat wanita yang berjilbab dan menutup aurat samada di majlis ilmu atau di jalanan, malulah dan pandanglah tempat lain. Itu bukan HAQ mu.. Allah boleh ganti dengan yang lebih baik.

Kalau diberikan peluang melihat aurat wanita, takut dan malulah, kerana itu akan merendahkan darjat matamu dan merosakkan amal, sekaligus hati menjadi lali dan tidak tenteram.

End of part one for Brothers.. please try this at home


SISTERS, WE NEED COMPLEMENTARY ACTIONS.