Rabu, 30 Mac 2011

Bukan Permata Biasa

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu' berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta'jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa 'Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khairin' mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangun mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah 'ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta'ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu'annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur'an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da'i besar di kota Madinah.

Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa". (Ummu Asyrof dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Diambil dan
diketik ulang oleh Redaksi dari: Majalah Elfata edisi 08 volume 07 tahun 2007

Isnin, 28 Mac 2011

Untukmu Wanita

Salam sesuci titis qatrunnada
buat gadis seindah penghulu syurga
yang maharnya iman & taqwa
lalu dihias harum tulusnya cinta..
Buatmu permaisuri ratu hatiku doakan untaian mutiara solehah,
moga dirimu sentiasa terpelihara di bawah naungan kasihNya...

Malu mu mahkota yang tidak perlukan singgahsana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri..

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya...

Lembut mu tak bererti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati ..

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir diri mu
Ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri...

Rabu, 2 Mac 2011

Bagaimana Jika Allah Mencintai Kita?

Lazimnya andai kita mencintai atau merindui seseorang, kita mempunyai keinginan untuk memberitahu orang lain. Seboleh-bolehnya biar semua orang tahu bahawa kita sedang mencintainya. Hati merasa bahagia andai perasaan itu dapat dikongsikan bersama.

Melalui jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, kita dapat membaca pelbagai luahan mereka yang sedang bercinta. Antaranya:

"Saya sayang abang."

"Saya rindu ibu."

"Saya cinta kamu semua."

Agaknya, bagaimana pula jika Allah mencintai seseorang?

Dalam satu hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda :

"Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: "Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!" Maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: "Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai dia." Maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini." (Hadis Riwayat Bukhari)

MasyaAllah! Lihatlah cinta Allah..Sungguh luar biasa hebat..

Ketika Allah mencintai seseorang, Allah yang Maha Agung tidak cukup dengan hanya mengatakan "Aku cinta si dia!"

Tetapi Allah memaklumkan kepada seluruh makhluk-Nya.

Apa kata Allah dalam hadis tersebut?

"Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!"

Maka Jibril pun membuat pengumuman :

"Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai dia."

Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.

Oh Ar-Rahman Ar-Rahim, bahagianya mereka yang benar-benar dicintai Allah. Pasti hidup mereka sentiasa tenang dan diberkati.

Bayangkan jika semua pembaca iLuvislam.com disayangi Allah SWT. Pasti dunia ini dipenuhi dengan kebahagiaan.

Tidakkah kita mahu menjadi seorang yang benar-benar dicintai Allah?

Namun, selama ini, cinta siapa yang kita kejar?

Jumaat, 25 Februari 2011

Hati dan Akal Bicara Cinta

Di sebuah pondok usang milik seorang hamba, akal dan hati berbual berkenaan kasih dan cinta..

Akal : Assalamualaikum, sahabat.

Hati : Waalaikumussalam...

Akal : Apa khabar iman anda?

Hati terdiam...

Akal bertanya sekali lagi.

Akal : Apa khabar iman anda?

Hati : Kurang sihat mungkin.

Akal : Mengapa?

Hati : Aku merindui dia segenap jiwaku...

Akal : Dia yang mana, sahabatku?

Hati : Kedua dia. Dia yang hakiki, juga dia yang entah kemana akhirnya..

Akal : Tidak mengapa, Itukan fitrah manusia.

Hati : Tapi rinduku kepadanya kadangkala membuat jiwaku runsing. Fikiranku melayang terbang jauh ke angkasa. Kadangkala ketika beribadah juga aku teringat dia.

Akal : Cintamu padanya, juga cintamu padaNya, cinta padaNya kan yang lebih utama.

Hati : Tapi... Aku benar cinta dia. Aku benar rindu dia. Aku mencintainya kerana Allah. Kami saling menasihati kepada kebaikan. Aku mahu mengejar syurga bersamanya.

Akal : Apa makna cinta?

Hati : Kasih dan sayang.

Akal : Bagiku cinta itu gila.

Hati : Mengapa pula?

Akal : Apabila kita mencintai seseorang, kita asyik teringatkan dia. Apa yang dikata jangan, sebaik mungkin kita elakkan. Apa yang diminta, seboleh mungkin kita usaha. Bila ada yang lain mendekati, bergelodak rasa cemburu. Apa kau rasa begitu?

Hati : Ya. Begitu yang aku rasa.

Akal : Apa kau tahu apa pula ibadah?

Hati : Orang kata ibadah itu taat dan patuh.

Akal : Ibadah itu juga adalah cinta.

Hati : Bagaimana dimaksudkan begitu?

Akal : Ibadah itu cinta. Berkasih-kasihan dengan Tuhan.

Hati terdiam lagi...

Hati : Jadi... Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan wahai akal?

Akal : Fikirkan, kalau kau benar mencintai dia kerana Allah, apa kau ada mengadu kepadaNya?

Hati : Aku puas sudah berdoa. Aku mendoakannya empat puluh kali setiap hari. Siang dan malam! Tegas hati..

Akal : Apa kau berdoa kepadaNya hanya kerana apabila kau terasa jauh dengannya? Apa kau hanya melipatgandakan ibadahmu ketika jiwamu rasa tak tenang?

Hati diam dan tertunduk...

Akal : Bagaimana boleh kau katakan cintamu kerana Allah. Sedangkan kau mengabaikan Dia ketika cintamu dengannya sedang indah bercahaya. Sabarlah wahai hati. Doamu mungkin tidak makbul sekelip mata. Barangkali Allah akan memakbulkannya di lain masa. Barangkali Allah ada hadiah yang lebih berharga untukmu!

Aliran sungai merah terasa semakin deras mengalir ke kepala...

Akal : Cinta kepada manusia yang gila seperti itu, hanya layak disandarkan kepada Allah. Allah menarik cintamu kerana Allah lebih mencintaimu. Allah merindui doa dan tangisan hambanya. Allah mahu kau kembali mengindahkan cintamu kepadaNya!

Hati mulai menangis... Sepi... Kesal...

- Artikel iluvislam.co

Khamis, 20 Januari 2011

Pinanglah Daku Kerana Dakwah

Perkahwinan Atau Baitul Muslim (BM) merupakan satu urusan besar.

Saya katakan, ianya URUSAN AMAT BESAR.

Saya tanya pada kamu, susah tak nak bina individu muslim?

Susahkan....?

Apatah lagi sebuah baitul dakwah (rumah dakwah). Ianya bukan sekadar sebuah akad nikah. Ianya adalah satu wasilah untuk urusan lebih besar dari itu. maka bersedialah dan berfikirlah sewajarnya akan hal ini. Berbicara tentang perkara ini amat berbeza sekali fenomenanya dikalangan ikhwah dan akhawat sendiri.

Berbual dengan suami saya sendiri mengenalkan saya akan kepelbagaian sikap-sikap ikhwah (rakan-rakan seperjuangan) mahupun saya sendiri mengenali banyak kisah-kisah akhawat yang ada.

Lain orang, lain ragam dan ceritanya.

Sebelum melangkah, mengambil keputusan dan memasang niat, jadilah perjalanan antum menuju anak tangga seterusnya, perjalanan yang terbaik sekali dari awal, sehinggalah pengakhirnya.

Di situ ada barakah, di situ ada kemanisan, di situ ada sebuah cerita yang layak diabadikan untuk dijadikan contoh buat anak-anak kita nanti. Kisah kita takkan sama dengan kisah ibu bapa kita dahulu.

Dakwah di zaman ini berbeza. Sikapnya pun berbeza. Maka penjagaannya begitu juga.

Sikap ikwah dalam menjaga ikhtilat (perhubungan lelaki dan perempuan) ini berbeza sekali. Ada yang sangat menjaga hingga tak memandang perempuan pun (ehem ehem), sehinggalah yang suka memandang akhawat untuk mencari calon pasangannya. Ada yang mahu menunggu hingga umur 30 tahun, mencukupkan keperluan serba serbi barulah nak dibina mahligai rumah tangga ini. Ada yang sedari belasan tahun sudah decide untuk bertunang demi berumah tangga.

Begitu juga naluri seorang akhawat berbeza sekali. Ada juga yang dah bersedia awal. Ada yang belum lagi. Dan saya nampak indahnya ikhwah akhawat ini kerana mereka tak memilih couple sebagai jalan penyelesaian dalam menyelamatkan perasaan. Mereka tetap memilih akad demi menyelamatkan perasaan mereka.

Banyak orang banyak kisahnya. Banyak contoh boleh didapati. Ada yang memberi contoh terbaik. Ada yang amat menjaga segala proses BMnya sehingga semua terkejut saat dia mengumumkan tarikh pernikahannya. Ada juga yang sedikit longgar dalam urusan BMnya. Contact tanpa orang tengah dan sebagainya. Antum lihat, dan tanyalah hati antum apa yang terbaik mahu antum ikuti.

Kerana antum akan menjadi contoh pada anak binaan antum dan anak-anak antum sendiri. Jika antum sendiri longgar, maka longgarlah anak binaan antum. Begitu juga anak-anak antum. Namun jika kita benar menjaga langkah-langkah kita semenjak awal, hingga akhirnya, itu akan menjadi contoh pada anak binaan kita.

Bukan itu sahaja, bagaimana penjagaan hati anda dengan Allah? Takkah anda malu cintamu pada Allah telah tercemar? Sebab ada juga yang bertunang lama, dan akhirnya membuka ruang untuk diri mereka bercouple tanpa disedari, bercinta tanpa sah. Ini adalah suatu virus yang akan melemahkan jiwa seorang akhi dan juga ukhti.

Melamar secara direct

Ada juga akhwat yang melamar ikhwah secara direct. Walaupun paling ramainya adalah ikhwah sendiri. Ada yang secara sms mahupun email. Saya tersenyum terkadang menerima berita ini. Dan terkadang saya berfikir, takkan naqib ikhwah tersebut ataupun ikhwah lain tak memberikan contoh kepada ikhwah tersebut bahawa; sebelum melamar, rujuk dahulu naqibah akhawat tersebut.

Itu lebih gentleman, dan sejahtera untuk hati ikhwah dan akhawat tersebut.

Akhwat rasa sangat offended bila ikhwah melamar tanpa adanya kehadiran orang tengah. Walau beremel, biarlah ada orang tengah. Jika bersms, biarlah ada orang tengah mengetahuinya.

Suka itu penting dalam berbaitul Muslim, walaupun itu bukan satu syarat kerana perasaan itu boleh dibina. Ada yang dah berkenalan terlebih dahulu, ada mengenali lewat program ataupun emel.

Namun untuk memilih calon isteri itu, bukanlah memberi ruang untuk mata kita meliar mencari siapakah calon isteri kita.

Kerana kita berkahwin sendiri untuk menjaga hati kita. Agak ironi dan pelik, jika sebelum kahwin sendiri kita sudah tidak menjaga hati kita dan membenarkan syaitan-syaitan memasuki ruang hati kita.

Kerana itu, walaupun tidaklah semua cerita Baitul Muslim ini indah, namun pada kebanyakannya, jika proses itu dimulakan dengan perbincangan bersama nuqaba, outcomenya pasti indah samada positif mahupun negatif.

Kebanyakan akhwat yang merujuk saya apabila ada ikhwah melamar secara direct, outcomenya pasti sedikit mengecewakan ikhwah tersebut. Samada ditolak bulat-bulat, mahupun akan berlaku masalah di perjalanan.

Indahnya apabila dakwah menjadi sandaran kita.

Ada kata-kata dikalangan ikhwah yang mengatakan bahawa, kalau kahwin dengan akhawat ini, confirm settle agama. So, sekarang kita kena carilah yang comel dan cantik pula.

Saya tergelak juga menerima kenyataan ini, sebab memang sisters sendiri beranggapan begitu. Ada kata-kata mengatakan:

' asalkan ikhwah sudah! tak kisahlah siapa pun dia!!'

Niat untuk kahwin sesama ikhwah akhawat itu sangat bagus. Dan itulah yang lebih utama. Tapi berkahwin ini melibatkan dua pasangan yang ada hati dan perasaan . Bukan nak kahwin dengan benda. Di situ ada nilai-nilai manusiawi. Manusia ada kelemahan - kelemahannya. Tak semua akhwat sama level dalam tarbiyah dan dakwah. Ada yang tak cukup muwasafatnya lagi. Ada yang lebih utama untuk dikahwini lebih dahulu berbanding lain.

Jika kamu letakkan dahulu citarasa diri kamu berbanding dakwah, adakah kamu ini wajar digelar rijal dakwah? Allah akan beri kamu yang terbaik. Jika kamu memilih pasangan kamu kerana Dia.

Sebab itulah nuqaba perlu disantuni dahulu. Ada yang bermasalah dengan nuqaba, maka santunilah orang tengah yang lebih ditsiqahi. Di situ orang tengah akan suba sedaya upaya menjaga ego seorang lelaki mahupun seganya seorang perempuan dalam proses ini. Pengenalan dalam pertunangan berlaku di bwah pandangan mata Allah, bukannya syahwat. Dan insyaallah kamu akan dikurniakan orang yang terbaik buatmu.

Saya tak tahu berapa ramai ikhwah yang baca artikel ini, namun ingin saya katakan pada mereka, pinanglah akhawat (rakan perempuan) kerana dakwah.

Jangan kaburinya dengan perasaan suka mahupun cinta pada sebuah keindahan wanita. Maknanya terkadang terkaburnya niat kita itu menjadikan istikharah kita tak menentu, mahupun kita tergopoh gapah dalam bertindak. Bila kita berkahwin kerana Allah, kita akan menjaga setiap langkah-langkah kita dalam berBM ini termasuk tempoh pertunangan itu sendiri yang banyak mengundang fitnah dalam hati ini.

Tempoh pengenalan sebelum berkahwin itu penting untuk melihat keserasian. Namun berkenalan selepas kahwin itulah terlebih indah serta manis. Setiap saat akan ditunggu demi mempelajari sifat baru pasangan kita.

Jagalah gentlemannya anda dengan tidak bertanya direct pada akhwat. Jangan malu untuk meminta bantuan orang tengah. Anda akan dihormati dan dikagumi oleh mana-mana akhwat pun. Jika mereka menolak, keegoan anda tidak terusik dan anda pasti akan dicarikan akhwat lainnya.

Untuk akhwat, keadaan diri kita berbeza. Satu ekstreme, ramai akhwat sudah meniti senja usia, menantikan pinangan ikwah yang mahu meminangnya kerana dakwah. Mungkin umur sudah beranjak, muka sendiri tak berapa comel. Sangat tangkas pula tu dalam dakwah menyebabkan ikhwah sedikit kecut untuk meminang. kita jelas dalam memilih ikhwah sebagai pasangan hidup kita kerana kita mahukan ketenangan hati dan kestabatan di atas jalan dakwah. Namun bagi ikhwah, keadaan mereka berbeza pula.

Jika ada orang soleh meminangmu, jangan menolak dahulu sebelum bersyura dengan orang yang bertanggungjawab ke atasmu (ini jika pinangan itu direct padamu). Walaupun cara itu salah dan tidak menghormati statusmu sebagai akhawat (rakan perempuan), namun di situ ada nilai ukhuwah yang perlu kita santuni pada ikhwah. Ada tarbiyah yang perlu kita ajarkan pada ikhwah dengan cara yang mudah dia terima tanpa merendahkan egonya.

Dahulu pernah ikhwah mengatakan akhwat kita ibarat warden penjara. Mereka tak tahu kita bertindak sedemikian kerana kita amat menjaga hati kita dengan Allah. Kita tahu kelembutan kita mesti mencairkan hati para ikhwah. Kerana itu kita tak mahu menjadi bahan fitnah.

Namun seluruh fikrah ini mengajarkan kita untuk berlemah lembut dengan manusia dan juga sentiasa mengajari manusia yang silap dengan cara yang terbaik. Maka bersyuralah. itu kuncinya.

Dan nak tahu something? Jika antunna sendiri berkenan untuk berkahwin dengan seorang ikhwah, jangan segan untuk bertanya naqibahmu. Itu bukan perigi mencari timba. itu usaha untuk menyelamatkan hatimu. Bila adanya orang tengah, takkan terasa segan dan malu. Orang tengah akan memainkan peranannya, walaupun prosesnya lambat.

Tidak semua yang melalui BM ini perfect.

Sepertimana orang yang kahwin selepas couple pun ada masalahnya, ada yang bercerai even. Begitu juga dengan BM. BM ini wasilah untuk kita dapat redha Allah, tapi kita pasti diuji. Fasa pengenalan pada awalnya sukar bagi dua insan yang langsung tidak pernah bercakap dan bertentang mata pun, namun disebalik itu ada kemanisan yang amat sukar diungkapkan.

Ianya amat manis, subhanalllah.

Tetapkan matlamatmu. Biar jelas. Biar terang.

Itulah dia kerana dakwah dahulu. Kerana Allah dan rasulNya dahulu.

Tak semua ikhwah perfect dan tak semua akhwat perfect. Carilah kesempurnaan itu betul-betul pada dakwah, baru yang lainnya. Allah akan cukupkan keperluanmu akhi wa ukhti, jika kamu memilih Allah sebelum yang lainnya insyaallah.

Jadilah moderate dalam prosesnya

Alhamdulillah, jika proses BM itu dimudahkan Allah. Berimbanglah. Berbincang itu perlu untuk menetapkan perkara-perkara yang penting di dalam kehidupan rumah tangga. tapi di situ jangan terlalu bermudah-mudahan dan menganggap bahawa tunangan kita itu milik kita dan kita boleh menyintai dia sesuka hati kita. Bila Allah sebagai sandaran, segalanya kelihatan dan dirasai rasional.

Isnin, 3 Januari 2011

Mencari Cinta Hakiki Mendamba Redha Ilahi

Mencari Cinta Hakiki, Mendamba Redha IlahiPayah benar kurasakan,menelusuri Hari demi hari..mencari cinta hakiki,yang mekar di hati insan..bukan cinta nafsu namun cinta fitrah insani,yang disalurkan kpd jalan yg suci..hanya satu cara..melalui satu ikatan yang suci,itulah Pernikahan abadi..Kuingini cinta itu hanya d alam pernikahan..dan kuyakini, cinta setelah ituadalah cinta yg diredhaiNya..kerana itulah syariatNyayang MESTI kita ikutidemi meraih redha ilahi..
Allahu Rabbi..adakah aku dipandang mundurhanya kerana berpegang pada prinsip inibertegas pd kaum adamagar iman mereka tak lunturdek kelembutan kaum hawa..Apakah ianya salah?
Mencari pasangan hidup..bagiku bukanlah semudah memetik jari..apakah insan bernama wanita,perlu menggunakan semua wataknya untuk memaut hati lelaki??Adakah itu jalannya bagi memudahkan cara?Sungguh pendapat itu tidak dapat kuterima!
wahai insan bernama wanita..tetaplah teguh dirimu pada jalanNyamemenuhi semua tuntutanNyamemagar dirimu dengan malu dan taqwausah terpesona dengan madah berbunga sang nafsu yg berpuakakerana Allah dan Rasul ada janjinyabuatmu muslimah yang memelihara dirijangan pernah dikau ragu!kerana janjiNya pasti BENAR!
allahu Rabbi..sabarkanlah hatiku, tabahkanlah jiwakumoga pendirianku tetap teguh padaMusungguh ku mencari cinta hakiki danAku mendambakan Kasih dan RedhaMu Tuhan..Agar segalanya indah bersama Tuhan..Amin3 Ya Rabbal A'lamin...

Sabtu, 25 September 2010

Syaitan Itu Kreatif





Pernah satu ketika saya diminta belajar daripada syaitan oleh seorang yang ulama yang dihormati. Saya terkejut. Benarkah ini?

“Belajar tentang kreativiti dan inovasi syaitan menyesatkan manusia,” jelasnya.

Saya tersenyum. Ada kebenarannya. Syaitan begitu kreatif mencipta dan mempromosi kejahatan. Ada-ada sahaja cara dan jalannya. Tidak pernah kaku, jarang yang beku. Sentiasa ligat dan cepat. Sentiasa ada pembaharuan. Malangnya, acapkali orang yang memperjuangkan kebenaran…tidak se’dinamik’ dia. Tumpul kreativiti dan beku inovasi. Asyik-asyik yang semacam itu juga.

Begitulah. Semoga kisah dialog di bawah boleh dijadikan cabaran untuk minda bagi terus memperjuangkan kebenaran. Kita mesti lebih kreatif daripada syaitan!

KISAH TIDAK LAMA DULU

Bertemu dengannya dahulu merupakan satu penghormatan. Apa tidaknya, dia sudah berubah ke arah kebaikan.

“Mengapa tiba-tiba?” tanya saya.

“Hidayah bang…” jawabnya si dia pendek.

“Bagaimana dengan segalanya?” Risau saya dengan profesyennya.

“Allah ada. Allah akan membantu segalanya.”

“Syukur,” kata saya perlahan.

Setahun kemudian.

“Lihat ini..” kata seorang sahabat sambil menghulurkan sekeping gambar.

“Betul ke ni?”

“Apa kau ingat ini ‘super-impose’?”

Saya terdiam. Kaku.

“Mana pergi tudungnya?”

“Itu..” tuding jari saya kepada tudung merah di atas kepalanya.

“Itu tudung?”

“Yalah, bertudung tapi tidak menutup aurat.”

“Bertutup tapi terbuka, tahupun…” katanya seakan menyindir.

Bila kenalan itu pergi, saya tatap sekali lagi gambar yang ditinggalkan. Kasihan saya melihat wajah si dia yang terbaru. Terasa, betapa kekadang hidayah datang dan pergi berselang-seli. Masih terbayang tangisannya tempoh hari, ketika menceritakan bagaimana terbuka pintu hatinya menginsafi dosa-dosa lampau.

“Bang saya insaf bang…“

Lantas, tanpa sesiapa yang memaksa… dia mengenakan tudungnya. Lengkap, labuh, menutup aurat berpandukan syariat. Tidak jarang, tidak ketat, tidak mengundang fitnah bertandang. Sempurna. Sejuk, mata memandang. Dingin kalbu merasakan. Betapa hidayah itu singgah tanpa mengira siapa, di mana dan bila? Dulu si dia terpilih, sekarang kembali tersisih?

Kini tiba-tiba segalanya semacam ‘ditarik’ kembali. Tudungnya makin singkat. Dari mulanya di bawah paras dada, naik ke paras leher dan akhirnya kembali membuka leher, dagu dan… Paling malang, tingkah yang dulunya mula terjaga, kini lepas bebas kembali. Kata sesetengah yang setuju, biarlah… itu lambang Islam dinamik. Bertudung tapi masih boleh meliuk-lentuk, terkinja-kinja dan bersuara manja. Yang penting hati… Asal hati baik, tidak mengapa. Yang penting isi, kulit tak apa. Kalau begitu kenapa dulu perlu bertukar kulit? Insaf dan taubat sahajalah, tak payah bertudung litup seperti kelmarin!

Saya teringat kuliah yang pernah disampaikan oleh seorang ulama satu ketika dahulu:

“Syaitan terlalu kreatif…” Kreatif? Bisik hati saya.

“Kekadang syaitan tidak menghasut manusia meninggalkan daerah putih menuju daerah hitam… Tetapi dia mengujudkan lebih banyak daerah ‘grey’ – warna keperang-perangan, yang hakikatnya bukan lagi kebenaran.” Terfikir saya, inilah jerangkap kebatilan yang dianggap kebenaran. Topeng baik bagi melempiaskan kejahatan yang dulunya terpendam. Ya, syaitan terlalu kreatif. Ada-ada sahaja ‘was-was’ baru yang ditiupkan ke jiwa insan agar meminggirkan jalan Tuhan.

Hasilnya, sekarang kita dapat lihat bagaimana ada gadis bertudung di kalangan Mat Rempit. Ada wanita bertudung yang melalak dengan gaya bebas terbabas dari nilai akhlak dan kesopanan. Atau peragawati bertudung dengan langkah ‘catwalk’ dengan dada, ‘make-up’ galak sambil yang mengundang pesona dan ‘aura’ dosa. Dan lebih ‘daring’ lagi kita dapat lihat tarian ala-ala gelek oleh gadis bertudung… Atau sekarang pun sudah ada bunga-bunga munculnya Rockers wanita bertudung? Ah, apa ni? Daerah ‘grey’? Atau segalanya sudah hitam, kelam, kusam.

Teringat juga saya pesan daripada seorang yang saya sangat hormati kerana ilmu dan kewarakannya:

“Tudung wanita itu ada empat… tudung pada wajahnya, tudung pada mata, tudung pada suara, tudung pada hati.” Apa ertinya? “Tudung pada wajah… jangan sampai wajahnya mengundang fitnah. Kecantikan adalah pingitan buat suami, bukan pameran untuk lelaki ajnabi. Tudung pada mata… jangan matanya memandang lelaki lain selain muhramnya. Solehah yang hakiki, tidak dipandang, tidak memandang. Tudung pada suara… jangan dilunak-lunakkan dengan tujuan memikat dan mempersona. Tudung pada hati… mengingati Allah… dengan tasbih Siti Fatimah, subhanallah, alhamdulillah dan Allahu Akbar…”

“Jangan terlalu ekstrem,” tegur seorang kawan bila saya lontarkan pandangan betapa wanita bertudung masakini sudah semakin hilang ‘penghormatannya’ (baca betul-betul… bukan ‘kehormatan’). Bagi saya kuantiti orang bertudung meningkat tapi kualitinya merudum.”
“Bukan begitu. Menutup aurat ada tujuannya… tercapaikah tujuan dengan penutupannya. Jika tidak, hakikatnya mereka masih terdedah,” balas saya perlahan.

“Aku tak faham. Maksud kau?”

“Seperti juga solat. Tujuannya mengingati Allah, kesannya pasti dapat mencegah kejahatan dan kemungkaran. Begitu maksud Al Quran apabila menjelaskan tujuan solat didirikan.”

“Lantas?”

“Jika solat tidak mencapai tujuan pasti ada sesuatu yang menyimpang. Samalah seperti hukum menutup aurat, tujuannya menjaga akhlak dan kehormatan. Maknanya kalau sudah menutup aurat, tetapi masih tercalar akhlak dan kehormatan… tentu ada yang salah dalam penutupannya.”

“Jangan ektreem sangat. Tutup aurat bukan ertinya kita menutup keindahan. Tak salah berhias, menarik, cantik.”

“Keindahan mesti didasari oleh kebenaran. Ingat, setiap keindahan tidak semestinya satu kebenaran…”

“Jadi kebenaran menolak keindahan?”

“Keindahan itu satu kebenaran!” balas saya cepat. Ya, atas alasan bertudung tidak menafikan keindahan pelbagai ‘aksesori’ ditokok-tambah menjadikan tudung lebih dimertabatkan sebagai ‘fesyen’ orang ‘baik-baik’ dan orang ‘cantik-cantik’ berbanding syariat wanita yang beriman!

“Hormati, itukan era transisi” kata seorang sahabat seakan memujuk saya.

“Transisi? Apa maksud mu?”

“Sebelum lengkap bertudung… err… maksudku menutup aurat, biarlah mereka berskaf dulu. Tu pun dah baik daripada sebelumnya yang tak menutup kepala langsung.”

“Transisi, ke arah mana? Aku tidak bercakap tentang orang yang tak bertudung langsung. Tetapi aku bercakap tentang individu yang dulu tak bertudung, lepas tu bertudung, kemudian berskaf sahaja… ini transisi ke arah mana? Nak bertudung semula atau nak tak bertudung semula?”

Dia diam. Bungkam. Marah sayapun kerana sayang.

“Langkah pengalihan mesti diiringi oleh pengisian. Jangan tutup kepala sahaja, tetapi isi kepala yang ditutup itu dengan ilmu. Mereka yang tidak menghadiri majlis lebih 40 hari, hati menjadi gelap. Kemudian cari kawan-kawan yang sehaluan. Penghayatan agama kita dipengaruhi oleh kawan-kawan kita…”

“Kau kata mereka tidak ada ilmu?’”

“Bukan begitu. Menuntut ilmu mesti berterusan. When you stop learning, you stop leading – maksudnya, jika kita berhenti menuntut ilmu kita akan berhenti memimpin. Sekurang-kurangnya memimpin diri sendiri,” kata saya.

“Sekali lagi. Kau meragui ilmu mereka?.”

“Ada sebab untuk aku meraguinya? Maaf, aku pun bukan baik. Tetapi kita tidak boleh berdiam melihat kejahilan berkata-kata.”

“Maksud kau?”

“Ada yang berkata, dia masih menutup aurat kerana dia memakai rambut palsu! Bayangkan apa yang orang begini faham tentang hukum menutup aurat? Pernahkah dia mendengar tafsir Surah An Nur? Pernah dia belajar tafsiran hadis tentang aurat wanita Islam? Peliknya, suara semacam ini semakin nyaring sekarang.”

Aku diam. Tafakur. Semua itu imiginasi untuk tulisan ini semata. Namun itu bukan ilusi. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk menuturkannya. Lalu Kemudi Hati ini menjadi wadahku berbicara. Untuk diri, isteri, anak perempuanku dan anda wanita-wanita Islam semua. Antara syaitan bisu dan syaitan yang licik berkata-kata, kekadang kita jadi semakin bungkam… menjadi ‘malaikat’ yang diam? Oh, tidak… Rasul berpesan: katakan yang benar walaupun pahit!